Langsung ke konten utama

Restoran Cepat Saji Ini Beri Insentif Bitcoin untuk Karyawan, Ini Skemanya

Restoran Cepat Saji Ini Beri Insentif Bitcoin untuk Karyawan, Ini Skemanya Adopsi Bitcoin tidak lagi terbatas pada sektor keuangan dan teknologi. Kini, industri makanan cepat saji di Amerika Serikat mulai menunjukkan langkah nyata dalam mengintegrasikan aset kripto ke dalam sistem insentif karyawan. Salah satu contohnya datang dari Steak ‘n Shake , jaringan restoran cepat saji yang dikenal luas di AS, yang secara resmi mengumumkan program bonus berbasis Bitcoin bagi para pekerjanya. Melalui pengumuman yang disampaikan di media sosial X, manajemen Steak ‘n Shake menyatakan bahwa perusahaan akan memberikan bonus Bitcoin senilai US$0,21 untuk setiap jam kerja kepada seluruh karyawan bergaji per jam di restoran yang dikelola langsung oleh perusahaan. Kebijakan ini mulai berlaku pada 1 Maret dan menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mendukung adopsi Bitcoin. Skema Bonus Bitcoin per Jam Kerja Dalam pernyataannya, Steak ‘n Shake menjelaskan bahwa inse...

Menolak Tawaran 50.000 Bitcoin, Penjual Apartemen Ini Kehilangan Potensi Nilai Rp80 Triliun

Menolak Tawaran 50.000 Bitcoin, Penjual Apartemen Ini Kehilangan Potensi Nilai Rp80 Triliun


Kisah tentang peluang yang terlewat dalam dunia kripto kembali menjadi sorotan. Kali ini, cerita datang dari sektor properti, ketika seorang penjual apartemen pada 2015 memilih menolak pembayaran menggunakan Bitcoin (BTC). Keputusan tersebut pada masanya terlihat masuk akal, namun seiring berjalannya waktu justru menjadi contoh nyata bagaimana aset digital dapat mengalami lonjakan nilai yang luar biasa.

Pada 2015, seorang pembeli mengajukan tawaran pembelian apartemen mewah senilai US$13,95 juta dengan menggunakan 50.000 Bitcoin. Saat itu, harga Bitcoin masih relatif rendah dan belum mendapat kepercayaan luas dari pelaku pasar properti maupun investor institusional. Nilai total 50.000 BTC ketika itu diperkirakan hanya sekitar US$13,04 juta, lebih rendah dari harga apartemen yang ditawarkan.

Selain selisih nilai, faktor risiko juga menjadi pertimbangan utama. Bitcoin pada periode tersebut masih dipandang sebagai aset eksperimental, volatil, dan minim regulasi. Bagi banyak pelaku bisnis konvensional, menerima pembayaran dalam bentuk kripto dianggap terlalu berisiko dibandingkan mata uang fiat.

Keputusan Rasional di Zamannya

Jika ditinjau dari konteks waktu itu, keputusan penjual apartemen tersebut dapat dikatakan rasional. Pada 2015, Bitcoin belum mencapai fase adopsi global seperti saat ini. Infrastruktur perdagangan kripto masih terbatas, fluktuasi harga tinggi, dan narasi Bitcoin sebagai “penyimpan nilai” belum sekuat sekarang.

Banyak pihak kala itu memandang Bitcoin hanya sebagai instrumen spekulatif, bukan aset serius untuk transaksi bernilai besar seperti properti mewah. Risiko penurunan harga, masalah likuiditas, hingga potensi hambatan hukum menjadi alasan kuat bagi penjual untuk menolak tawaran tersebut.

Namun, waktu membuktikan bahwa pasar kripto bergerak jauh melampaui ekspektasi banyak orang.

Lonjakan Harga yang Mengubah Segalanya

Dalam satu dekade terakhir, Bitcoin mengalami pertumbuhan nilai yang sangat signifikan. Dari harga ratusan dolar per koin pada 2015, BTC kini diperdagangkan di kisaran US$95.000 per koin. Dengan harga tersebut, 50.000 Bitcoin yang dahulu ditolak kini bernilai sekitar US$4,75 miliar, atau setara Rp80 triliun.

Jika dihitung secara persentase, nilai Bitcoin tersebut telah melonjak lebih dari 36.000% sejak penawaran awal dilakukan. Angka ini mencerminkan salah satu kenaikan nilai paling ekstrem dalam sejarah aset modern.

Kisah ini kerap disebut sebagai contoh nyata “opportunity cost” dalam dunia investasi, yakni potensi keuntungan besar yang hilang akibat keputusan tertentu di masa lalu.

Peran Agen Properti dan Sudut Pandang Berbeda

Menariknya, agen real estate yang terlibat dalam transaksi tersebut, Ryan Serhant, justru mengambil pendekatan berbeda terhadap Bitcoin. Meski kliennya menolak pembayaran BTC, Serhant memilih untuk mempelajari aset digital tersebut lebih lanjut.

Atas saran seorang teman, Serhant mulai membeli Bitcoin ketika harganya masih berada di kisaran US$3.000 hingga US$16.000. Keputusan ini kemudian terbukti sangat menguntungkan. Seiring kenaikan harga Bitcoin yang masif, ia menyebut investasi tersebut sebagai salah satu keputusan finansial terbaik dalam hidupnya.

Pengalaman Serhant menunjukkan bahwa persepsi terhadap aset baru bisa sangat berbeda antarindividu, bahkan dalam satu transaksi yang sama. Ketika sebagian pihak memilih menghindari risiko, pihak lain justru melihat peluang jangka panjang.

Pelajaran dari Aset yang Pernah Diremehkan

Kisah penolakan 50.000 Bitcoin ini menyoroti dinamika umum dalam dunia investasi, khususnya terkait aset inovatif. Hampir semua instrumen investasi besar saat ini—mulai dari saham teknologi, internet, hingga kripto—pernah berada pada fase awal yang dipenuhi skeptisisme.

Bitcoin, pada masa-masa awalnya, sering dikaitkan dengan risiko keamanan, ketidakpastian regulasi, dan volatilitas ekstrem. Namun seiring berkembangnya ekosistem, masuknya investor institusional, serta meningkatnya adopsi global, persepsi terhadap Bitcoin berubah secara signifikan.

Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa kenaikan nilai Bitcoin bukan tanpa risiko. Perjalanan BTC dipenuhi dengan siklus naik-turun tajam, koreksi besar, serta sentimen pasar yang cepat berubah.

Relevansi bagi Investor Indonesia

Bagi pembaca kripto di Indonesia, kisah ini dapat menjadi refleksi tentang bagaimana menilai aset baru dan memahami risiko jangka panjang. Tidak semua aset inovatif akan mengalami pertumbuhan seperti Bitcoin, dan tidak semua keputusan konservatif berakhir dengan penyesalan.

Investor perlu mempertimbangkan banyak faktor sebelum mengambil keputusan, termasuk profil risiko, tujuan investasi, serta pemahaman terhadap teknologi dan pasar. Kisah ini bukan ajakan untuk berspekulasi berlebihan, melainkan pengingat bahwa perubahan besar sering datang dari inovasi yang awalnya diragukan.

Di sisi lain, kisah ini juga menegaskan pentingnya diversifikasi. Ryan Serhant tidak mempertaruhkan seluruh kekayaannya pada Bitcoin, melainkan menjadikannya bagian dari strategi investasi yang lebih luas.

Antara Penyesalan dan Kebijaksanaan

Menilai keputusan masa lalu dengan kacamata hari ini tentu mudah, namun pada saat keputusan dibuat, informasi yang tersedia sangat terbatas. Penjual apartemen pada 2015 tidak memiliki jaminan bahwa Bitcoin akan mencapai nilai puluhan ribu dolar seperti sekarang.

Oleh karena itu, kisah ini sebaiknya dipahami sebagai pelajaran tentang ketidakpastian pasar dan pentingnya perspektif jangka panjang, bukan sebagai kesalahan mutlak dari pihak tertentu.

Kesimpulan

Penolakan pembayaran 50.000 Bitcoin untuk sebuah apartemen pada 2015 kini menjadi salah satu cerita ikonik dalam sejarah kripto. Dengan nilai yang saat ini setara Rp80 triliun, keputusan tersebut mencerminkan betapa cepat dan ekstremnya perubahan nilai dalam dunia aset digital.

Di sisi lain, kisah ini juga menyoroti pentingnya edukasi, keberanian terukur, dan manajemen risiko dalam menghadapi inovasi finansial. Bagi investor Indonesia, cerita ini menjadi pengingat bahwa peluang besar sering kali datang bersama ketidakpastian, dan setiap keputusan investasi selalu membawa konsekuensi jangka panjang.

Disclaimer: Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Inspiratif: Wanita Asal Brasil Menabung Bitcoin Demi Mewujudkan Impian Keliling Dunia

Kisah Inspiratif: Wanita Asal Brasil Menabung Bitcoin Demi Mewujudkan Impian Keliling Dunia Bitcoin tidak lagi sekadar dikenal sebagai aset spekulatif atau instrumen investasi jangka pendek. Bagi sebagian orang, aset kripto terbesar di dunia ini justru dimanfaatkan sebagai alat menabung alternatif untuk mencapai tujuan hidup tertentu. Salah satu kisah menarik datang dari seorang wanita asal Brasil bernama Ana , yang memilih menyimpan tabungannya dalam bentuk Bitcoin (BTC) demi mewujudkan impiannya berkeliling dunia. Ana yang berprofesi sebagai desainer grafis mengungkapkan bahwa keputusannya menabung menggunakan Bitcoin bukan semata mengikuti tren. Baginya, Bitcoin justru menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan gaya hidup modern, terutama bagi seseorang yang memiliki rencana perjalanan lintas negara. Bitcoin sebagai Sarana Menabung Perjalanan Dalam keterangannya yang dikutip dari laman Azteco , Ana menjelaskan bahwa ia secara rutin menyisihkan pen...

Bitcoin Berpotensi Likuidasi Rp66 Triliun Posisi Short Jika Tembus US$93.000

Bitcoin Berpotensi Likuidasi Rp66 Triliun Posisi Short Jika Tembus US$93.000 Pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan utama pelaku pasar kripto global. Setelah mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa waktu terakhir, perhatian investor kini tertuju pada satu level krusial, yaitu US$93.000 . Menurut data dari Bitcoin Exchange Liquidation Map , apabila Bitcoin kembali menyentuh harga tersebut, pasar berpotensi menyaksikan likuidasi besar-besaran posisi short dengan nilai mencapai US$4 miliar atau setara Rp66 triliun . Level harga ini dinilai sangat sensitif karena menjadi titik kumpul leverage tinggi, khususnya dari trader yang mengambil posisi short dan bertaruh bahwa harga Bitcoin akan terus melemah. Ketika harga justru bergerak naik dan menembus area kritis, risiko likuidasi meningkat secara signifikan. Apa Itu Likuidasi dan Mengapa Penting? Dalam perdagangan derivatif kripto, likuidasi terjadi ketika posisi trader ditutup secara otomatis oleh sistem exchan...

Inovasi Unik di Brasil: Pergerakan Harga Bitcoin Diubah Menjadi Musik Orkestra

Inovasi Unik di Brasil: Pergerakan Harga Bitcoin Diubah Menjadi Musik Orkestra Bitcoin dikenal sebagai aset digital dengan pergerakan harga yang dinamis dan sering kali sulit diprediksi. Namun di Brasil, volatilitas Bitcoin justru menjadi sumber inspirasi bagi sebuah proyek seni yang tidak biasa. Melalui pendekatan kreatif, data harga Bitcoin (BTC) akan diterjemahkan menjadi musik orkestra , menggabungkan dunia teknologi finansial dengan seni pertunjukan. Proyek ini bertujuan untuk menghadirkan cara baru dalam memahami pasar kripto. Alih-alih melihat grafik dan angka di layar, audiens diajak merasakan fluktuasi harga Bitcoin melalui komposisi musik yang dimainkan secara langsung oleh sebuah orkestra. Mengubah Data Pasar Menjadi Karya Seni Inisiatif ini merupakan proyek seni eksperimental yang memanfaatkan data harga Bitcoin secara real-time sebagai dasar penciptaan musik. Setiap perubahan harga, baik kenaikan maupun penurunan, akan memengaruhi elemen musikal seperti melod...