Harga Bitcoin Tembus Puluhan Miliar Rial, Warga Iran Ramai Alihkan Aset ke Dompet Pribadi
Gejolak ekonomi dan politik kembali mendorong lonjakan aktivitas kripto di Iran. Di tengah melemahnya nilai tukar rial yang kian terpuruk, masyarakat Iran dilaporkan semakin aktif memindahkan kepemilikan Bitcoin (BTC) ke dompet pribadi. Fenomena ini terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi, protes domestik, serta pemadaman internet yang sempat berlangsung secara luas pada akhir 2025 hingga awal 2026.
Berdasarkan laporan terbaru dari perusahaan analitik blockchain Chainalysis, terjadi peningkatan signifikan dalam jumlah transaksi harian Bitcoin serta pengiriman dana ke dompet non-kustodian yang tidak teridentifikasi. Lonjakan ini tercatat selama periode protes nasional dan pemadaman internet total, yakni antara 28 Desember 2025 hingga 8 Januari 2026.
Aktivitas Bitcoin Meningkat di Tengah Krisis
Chainalysis mencatat bahwa selama periode tersebut, volume transaksi Bitcoin di Iran menunjukkan pola yang tidak biasa. Warga diketahui lebih sering menarik BTC dari bursa lokal maupun platform kustodian dan memindahkannya ke dompet pribadi yang memberikan kontrol penuh atas aset digital mereka.
Langkah ini dinilai sebagai respons langsung terhadap kondisi ekonomi yang semakin memburuk. Krisis kepercayaan terhadap mata uang lokal menjadi faktor utama yang mendorong masyarakat mencari alternatif penyimpan nilai di luar sistem keuangan tradisional.
Sepanjang 2025, total aktivitas ekosistem kripto di Iran diperkirakan telah melampaui US$7,78 miliar. Angka tersebut mencerminkan meningkatnya peran aset digital sebagai sarana lindung nilai di negara yang tengah menghadapi tekanan inflasi, sanksi internasional, dan ketidakstabilan ekonomi.
Nilai Rial Anjlok, Bitcoin Kian Perkasa
Salah satu pemicu utama lonjakan adopsi Bitcoin di Iran adalah melemahnya nilai tukar rial secara drastis. Mata uang nasional Iran mengalami penurunan tajam hingga nyaris tidak bernilai terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini memperburuk daya beli masyarakat dan mempercepat pergeseran ke aset alternatif.
Di tengah pelemahan tersebut, harga Bitcoin dalam denominasi rial melonjak tajam. Satu BTC kini dihargai sekitar 90 hingga 100 miliar rial, bahkan sempat menyentuh angka ekstrem di kisaran ratusan miliar rial di pasar tertentu. Lonjakan ini bukan semata karena kenaikan harga Bitcoin secara global, melainkan lebih disebabkan oleh anjloknya nilai rial itu sendiri.
Bagi warga Iran, Bitcoin menjadi instrumen untuk mempertahankan nilai kekayaan di tengah ketidakpastian moneter. Dalam konteks ini, BTC dipandang bukan hanya sebagai aset spekulatif, tetapi juga sebagai sarana perlindungan dari depresiasi fiat yang berkepanjangan.
Protes dan Pemadaman Internet Percepat Perpindahan Aset
Periode akhir 2025 hingga awal 2026 ditandai dengan meningkatnya ketegangan domestik di Iran. Gelombang protes yang meluas di berbagai wilayah disertai kebijakan pemadaman internet total oleh pemerintah. Kondisi ini menciptakan kekhawatiran di kalangan masyarakat terkait akses terhadap dana dan kebebasan finansial.
Pemadaman internet menjadi katalis tambahan bagi warga untuk segera memindahkan aset kripto mereka ke dompet pribadi. Dengan menyimpan Bitcoin di dompet non-kustodian, pengguna tetap memiliki kendali penuh atas dana mereka, bahkan ketika akses ke layanan keuangan lokal atau platform terpusat terganggu.
Chainalysis menilai bahwa pola transaksi selama periode tersebut menunjukkan upaya masyarakat untuk mengamankan aset sebelum potensi pembatasan lebih lanjut diberlakukan.
Mengapa Dompet Pribadi Jadi Pilihan?
Dompet pribadi atau self-custody wallet memberikan sejumlah keunggulan yang sangat relevan dalam situasi krisis. Pertama, pengguna memiliki kendali penuh atas private key, sehingga aset tidak bergantung pada pihak ketiga. Kedua, dana dapat dipindahkan lintas negara tanpa memerlukan izin lembaga keuangan.
Dalam konteks Iran, dompet pribadi juga memberikan fleksibilitas untuk mengakses dana dari luar negeri, terutama saat sistem perbankan lokal mengalami gangguan atau pembatasan. Bahkan ketika koneksi internet terbatas, aset yang tersimpan di blockchain tetap aman dan dapat diakses kembali ketika jaringan pulih.
Selain itu, dompet non-kustodian dinilai lebih tahan terhadap intervensi pemerintah, pembekuan aset, atau kebijakan sepihak yang dapat merugikan pemilik dana.
Kripto sebagai Alternatif di Negara Berisiko Tinggi
Kasus Iran kembali menegaskan peran kripto sebagai alternatif sistem keuangan di negara-negara dengan risiko ekonomi dan politik tinggi. Dalam situasi di mana mata uang lokal kehilangan kepercayaan, aset digital sering kali menjadi pilihan bagi masyarakat untuk menjaga nilai kekayaan mereka.
Namun, peningkatan adopsi kripto di Iran juga membawa tantangan tersendiri. Volatilitas harga, keterbatasan akses internet, serta risiko keamanan digital tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh pengguna.
Selain itu, penggunaan kripto di wilayah dengan regulasi ketat juga berpotensi menimbulkan risiko hukum, tergantung pada kebijakan yang berlaku di masing-masing negara.
Dampak Global dan Pelajaran bagi Investor Indonesia
Fenomena perpindahan Bitcoin oleh warga Iran memberikan gambaran nyata tentang fungsi kripto di luar konteks investasi semata. Di negara berkembang atau berisiko tinggi, Bitcoin kerap digunakan sebagai alat bertahan di tengah krisis ekonomi dan ketidakpastian kebijakan.
Bagi investor kripto di Indonesia, situasi ini dapat menjadi pelajaran penting mengenai peran self-custody, manajemen risiko, serta pentingnya memahami fungsi dasar teknologi blockchain. Meski kondisi Indonesia berbeda jauh dengan Iran, pemahaman tentang pengelolaan aset digital tetap relevan dalam menghadapi dinamika pasar global.
Investor juga diingatkan untuk membedakan antara penggunaan kripto sebagai alat lindung nilai di negara krisis dan aktivitas investasi jangka panjang yang memerlukan perencanaan matang serta pemahaman risiko.
Kesimpulan
Lonjakan aktivitas Bitcoin di Iran mencerminkan respons masyarakat terhadap krisis ekonomi, pelemahan nilai rial, serta ketidakpastian akibat protes dan pemadaman internet. Data Chainalysis menunjukkan bahwa warga semakin aktif memindahkan BTC ke dompet pribadi demi menjaga keamanan dan kendali atas aset mereka.
Dengan harga Bitcoin yang kini setara puluhan hingga ratusan miliar rial, aset digital tersebut semakin dipandang sebagai pelindung nilai di tengah runtuhnya kepercayaan terhadap mata uang lokal. Fenomena ini menegaskan peran kripto sebagai alternatif sistem keuangan, sekaligus mengingatkan pentingnya edukasi, kehati-hatian, dan pemahaman risiko bagi seluruh pelaku pasar.
Disclaimer: Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR).
Komentar
Posting Komentar