Langsung ke konten utama

Restoran Cepat Saji Ini Beri Insentif Bitcoin untuk Karyawan, Ini Skemanya

Restoran Cepat Saji Ini Beri Insentif Bitcoin untuk Karyawan, Ini Skemanya Adopsi Bitcoin tidak lagi terbatas pada sektor keuangan dan teknologi. Kini, industri makanan cepat saji di Amerika Serikat mulai menunjukkan langkah nyata dalam mengintegrasikan aset kripto ke dalam sistem insentif karyawan. Salah satu contohnya datang dari Steak ‘n Shake , jaringan restoran cepat saji yang dikenal luas di AS, yang secara resmi mengumumkan program bonus berbasis Bitcoin bagi para pekerjanya. Melalui pengumuman yang disampaikan di media sosial X, manajemen Steak ‘n Shake menyatakan bahwa perusahaan akan memberikan bonus Bitcoin senilai US$0,21 untuk setiap jam kerja kepada seluruh karyawan bergaji per jam di restoran yang dikelola langsung oleh perusahaan. Kebijakan ini mulai berlaku pada 1 Maret dan menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mendukung adopsi Bitcoin. Skema Bonus Bitcoin per Jam Kerja Dalam pernyataannya, Steak ‘n Shake menjelaskan bahwa inse...

Dugaan Pencurian Aset Kripto Pemerintah AS Senilai Rp600 Miliar Jadi Sorotan


Dugaan Pencurian Aset Kripto Pemerintah AS Senilai Rp600 Miliar Jadi Sorotan


Dunia aset digital kembali dihebohkan oleh dugaan kasus pencurian kripto dalam jumlah besar yang diduga melibatkan individu dengan akses dekat ke lingkungan pemerintah Amerika Serikat (AS). Seorang analis blockchain independen yang dikenal dengan nama ZachXBT mengungkap temuan awal terkait dugaan pencurian aset kripto senilai lebih dari US$40 juta atau sekitar Rp668 miliar dari alamat penyitaan milik pemerintah AS.

Kasus ini langsung menarik perhatian komunitas kripto global karena menyangkut aspek keamanan penyimpanan aset digital, khususnya yang dikelola oleh institusi negara. Meskipun belum ada dakwaan resmi dari aparat penegak hukum, temuan ini memicu diskusi luas mengenai potensi celah pengawasan dan risiko internal dalam pengelolaan kripto berskala besar.

Dugaan Keterlibatan Keluarga Kontraktor Pemerintah

Dalam unggahan terbarunya di platform X pada Minggu (25/01), ZachXBT menyebut seorang individu bernama John Daghita, yang juga dikenal dengan alias “Lick”, diduga terlibat dalam pencurian aset kripto tersebut. Lebih lanjut, ia mengaitkan dugaan ini dengan latar belakang keluarga Daghita.

Menurut ZachXBT, ayah John Daghita, yaitu Dean Daghita, merupakan pemilik perusahaan Command Services & Support (CMDSS). Perusahaan tersebut diketahui memiliki kontrak teknologi informasi aktif dengan pemerintah AS, khususnya di wilayah Virginia. Dugaan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai potensi penyalahgunaan akses atau informasi sensitif yang berkaitan dengan sistem pemerintah.

“Jika Anda bertanya-tanya bagaimana John Daghita berhasil mencuri lebih dari US$40 juta dari alamat penyitaan Pemerintah AS, jalurnya diduga melalui ayahnya yang memiliki perusahaan dengan kontrak IT pemerintah aktif,” tulis ZachXBT dalam unggahannya.

Aktivitas Mencurigakan di Media Sosial dan Telegram

Salah satu aspek yang membuat kasus ini semakin menyita perhatian adalah dugaan bahwa John Daghita masih aktif di sejumlah platform digital setelah peristiwa tersebut. ZachXBT mengklaim bahwa Daghita tetap menggunakan Telegram dan bahkan memamerkan aset kripto yang diduga berasal dari hasil pencurian.

Jika klaim ini terbukti benar, hal tersebut menunjukkan tingkat keberanian yang cukup tinggi, sekaligus menyoroti lemahnya sistem deteksi dini terhadap pergerakan dana kripto ilegal, meskipun transaksi blockchain pada dasarnya bersifat transparan dan dapat dilacak.

Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa seluruh temuan ini masih berada pada tahap investigasi independen dan belum diverifikasi secara resmi oleh pihak berwenang.

Belum Ada Dakwaan Resmi dari Aparat

Hingga saat artikel ini ditulis, belum ada pengumuman resmi terkait dakwaan atau tuntutan hukum terhadap individu yang disebutkan dalam laporan ZachXBT. Tidak ada konfirmasi dari lembaga penegak hukum AS mengenai kebenaran atau kelanjutan kasus tersebut.

Selain itu, beberapa akun media sosial yang diduga terkait dengan individu maupun perusahaan yang disebutkan, seperti akun di platform X, Instagram, hingga LinkedIn, dilaporkan menjadi tidak aktif. Penonaktifan akun-akun ini semakin memicu spekulasi, meskipun belum dapat dijadikan bukti kuat atas dugaan yang beredar.

Situasi ini menegaskan pentingnya prinsip kehati-hatian dalam menyikapi informasi yang masih bersifat dugaan, terutama di ranah kripto yang sering kali dipenuhi rumor dan informasi yang belum terkonfirmasi.

Implikasi Terhadap Keamanan Penyimpanan Kripto Pemerintah

Terlepas dari benar atau tidaknya dugaan tersebut, kasus ini menyoroti isu krusial dalam ekosistem kripto global, yakni keamanan penyimpanan aset digital, khususnya yang dikelola oleh pemerintah. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara mulai menyimpan aset kripto hasil penyitaan dari aktivitas ilegal, seperti pencucian uang atau kejahatan siber.

Penyimpanan kripto oleh institusi negara membutuhkan sistem pengawasan berlapis, kontrol internal yang ketat, serta audit berkala. Tanpa mekanisme tersebut, risiko kebocoran, penyalahgunaan akses, atau serangan internal tetap terbuka.

Kasus ini juga menunjukkan bahwa ancaman keamanan tidak selalu datang dari peretas eksternal, melainkan bisa berasal dari individu dengan kedekatan atau akses tertentu terhadap sistem yang ada.

Peran Investigator Blockchain Independen

Nama ZachXBT sendiri sudah cukup dikenal di komunitas kripto sebagai investigator independen yang kerap mengungkap aktivitas mencurigakan di blockchain. Berbekal analisis on-chain, ia sering melacak aliran dana kripto yang diduga terkait dengan penipuan, peretasan, atau pencurian.

Meski demikian, hasil investigasi independen tetap perlu ditindaklanjuti oleh otoritas resmi agar memiliki kekuatan hukum. Blockchain memang transparan, tetapi penegakan hukum tetap memerlukan proses legal yang jelas, termasuk pengumpulan bukti tambahan dan verifikasi identitas pelaku.

Pelajaran bagi Ekosistem Kripto Global

Kasus dugaan pencurian ini memberikan sejumlah pelajaran penting bagi industri kripto secara keseluruhan. Pertama, transparansi blockchain tidak serta-merta menjamin keamanan absolut tanpa tata kelola yang baik. Kedua, pengelolaan aset kripto dalam jumlah besar, baik oleh individu maupun institusi, membutuhkan standar keamanan yang tinggi.

Bagi pemerintah, insiden seperti ini menjadi pengingat bahwa adopsi kripto harus dibarengi dengan regulasi internal, pelatihan sumber daya manusia, dan sistem pengawasan yang kuat. Sementara bagi pelaku pasar dan investor, kasus ini memperkuat pentingnya memahami risiko operasional di balik teknologi blockchain.

Dampak bagi Persepsi Publik

Di mata publik, khususnya masyarakat yang masih awam terhadap kripto, kasus semacam ini berpotensi memperburuk persepsi terhadap aset digital. Oleh karena itu, transparansi dan penanganan yang tegas dari pihak berwenang sangat dibutuhkan agar kepercayaan terhadap teknologi blockchain tidak semakin tergerus.

Di sisi lain, kasus ini juga menunjukkan bahwa blockchain menyediakan jejak transaksi yang dapat ditelusuri, yang justru menjadi alat penting dalam mengungkap dugaan kejahatan keuangan.

Kesimpulan

Dugaan pencurian aset kripto milik pemerintah AS senilai lebih dari Rp600 miliar yang diungkap oleh ZachXBT masih berada dalam tahap awal dan belum disertai dakwaan resmi. Meski demikian, kasus ini telah memicu diskusi luas mengenai keamanan, pengawasan, dan tata kelola aset kripto, khususnya di tingkat institusional.

Bagi pembaca kripto di Indonesia, peristiwa ini dapat dijadikan bahan refleksi tentang pentingnya keamanan aset digital dan kehati-hatian dalam menyikapi informasi yang beredar. Hingga ada konfirmasi resmi, seluruh pihak diharapkan tetap menunggu perkembangan lebih lanjut dari otoritas terkait.

Disclaimer: Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Inspiratif: Wanita Asal Brasil Menabung Bitcoin Demi Mewujudkan Impian Keliling Dunia

Kisah Inspiratif: Wanita Asal Brasil Menabung Bitcoin Demi Mewujudkan Impian Keliling Dunia Bitcoin tidak lagi sekadar dikenal sebagai aset spekulatif atau instrumen investasi jangka pendek. Bagi sebagian orang, aset kripto terbesar di dunia ini justru dimanfaatkan sebagai alat menabung alternatif untuk mencapai tujuan hidup tertentu. Salah satu kisah menarik datang dari seorang wanita asal Brasil bernama Ana , yang memilih menyimpan tabungannya dalam bentuk Bitcoin (BTC) demi mewujudkan impiannya berkeliling dunia. Ana yang berprofesi sebagai desainer grafis mengungkapkan bahwa keputusannya menabung menggunakan Bitcoin bukan semata mengikuti tren. Baginya, Bitcoin justru menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan gaya hidup modern, terutama bagi seseorang yang memiliki rencana perjalanan lintas negara. Bitcoin sebagai Sarana Menabung Perjalanan Dalam keterangannya yang dikutip dari laman Azteco , Ana menjelaskan bahwa ia secara rutin menyisihkan pen...

Bitcoin Berpotensi Likuidasi Rp66 Triliun Posisi Short Jika Tembus US$93.000

Bitcoin Berpotensi Likuidasi Rp66 Triliun Posisi Short Jika Tembus US$93.000 Pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan utama pelaku pasar kripto global. Setelah mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa waktu terakhir, perhatian investor kini tertuju pada satu level krusial, yaitu US$93.000 . Menurut data dari Bitcoin Exchange Liquidation Map , apabila Bitcoin kembali menyentuh harga tersebut, pasar berpotensi menyaksikan likuidasi besar-besaran posisi short dengan nilai mencapai US$4 miliar atau setara Rp66 triliun . Level harga ini dinilai sangat sensitif karena menjadi titik kumpul leverage tinggi, khususnya dari trader yang mengambil posisi short dan bertaruh bahwa harga Bitcoin akan terus melemah. Ketika harga justru bergerak naik dan menembus area kritis, risiko likuidasi meningkat secara signifikan. Apa Itu Likuidasi dan Mengapa Penting? Dalam perdagangan derivatif kripto, likuidasi terjadi ketika posisi trader ditutup secara otomatis oleh sistem exchan...

Inovasi Unik di Brasil: Pergerakan Harga Bitcoin Diubah Menjadi Musik Orkestra

Inovasi Unik di Brasil: Pergerakan Harga Bitcoin Diubah Menjadi Musik Orkestra Bitcoin dikenal sebagai aset digital dengan pergerakan harga yang dinamis dan sering kali sulit diprediksi. Namun di Brasil, volatilitas Bitcoin justru menjadi sumber inspirasi bagi sebuah proyek seni yang tidak biasa. Melalui pendekatan kreatif, data harga Bitcoin (BTC) akan diterjemahkan menjadi musik orkestra , menggabungkan dunia teknologi finansial dengan seni pertunjukan. Proyek ini bertujuan untuk menghadirkan cara baru dalam memahami pasar kripto. Alih-alih melihat grafik dan angka di layar, audiens diajak merasakan fluktuasi harga Bitcoin melalui komposisi musik yang dimainkan secara langsung oleh sebuah orkestra. Mengubah Data Pasar Menjadi Karya Seni Inisiatif ini merupakan proyek seni eksperimental yang memanfaatkan data harga Bitcoin secara real-time sebagai dasar penciptaan musik. Setiap perubahan harga, baik kenaikan maupun penurunan, akan memengaruhi elemen musikal seperti melod...