Langsung ke konten utama

Restoran Cepat Saji Ini Beri Insentif Bitcoin untuk Karyawan, Ini Skemanya

Restoran Cepat Saji Ini Beri Insentif Bitcoin untuk Karyawan, Ini Skemanya Adopsi Bitcoin tidak lagi terbatas pada sektor keuangan dan teknologi. Kini, industri makanan cepat saji di Amerika Serikat mulai menunjukkan langkah nyata dalam mengintegrasikan aset kripto ke dalam sistem insentif karyawan. Salah satu contohnya datang dari Steak ‘n Shake , jaringan restoran cepat saji yang dikenal luas di AS, yang secara resmi mengumumkan program bonus berbasis Bitcoin bagi para pekerjanya. Melalui pengumuman yang disampaikan di media sosial X, manajemen Steak ‘n Shake menyatakan bahwa perusahaan akan memberikan bonus Bitcoin senilai US$0,21 untuk setiap jam kerja kepada seluruh karyawan bergaji per jam di restoran yang dikelola langsung oleh perusahaan. Kebijakan ini mulai berlaku pada 1 Maret dan menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mendukung adopsi Bitcoin. Skema Bonus Bitcoin per Jam Kerja Dalam pernyataannya, Steak ‘n Shake menjelaskan bahwa inse...

Bitcoin Melemah, Harga Emas Justru Bangkit dan Tembus Level US$5.000

Bitcoin Melemah, Harga Emas Justru Bangkit dan Tembus Level US$5.000


Pasar keuangan global kembali menunjukkan dinamika yang kontras antara aset kripto dan aset lindung nilai tradisional. Di saat harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan dan bergerak melemah, emas justru mencatatkan penguatan signifikan hingga mencetak rekor harga baru. Kondisi ini menegaskan kembali peran emas sebagai aset safe haven ketika ketidakpastian global meningkat.

Pada perdagangan Senin (26/01), harga emas dunia (XAU) tercatat menyentuh level psikologis US$5.091, menandai titik tertinggi sepanjang sejarah. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan penurunan harga Bitcoin yang kini berada di kisaran US$87.000, setelah sebelumnya gagal mempertahankan momentum kenaikannya.

Emas Cetak Rekor, Bitcoin Kehilangan Daya Dorong

Kenaikan harga emas mencerminkan pergeseran sentimen investor yang cenderung menghindari risiko. Dalam situasi global yang tidak menentu, emas kembali menjadi pilihan utama untuk menjaga nilai aset. Sebaliknya, Bitcoin yang kerap disebut sebagai “emas digital” justru menunjukkan performa yang berlawanan dalam jangka pendek.

Penurunan Bitcoin ke area US$87 ribu menandakan adanya aksi ambil untung dan sikap kehati-hatian pasar. Meski secara fundamental Bitcoin masih dianggap memiliki prospek jangka panjang, pergerakan jangka pendeknya tetap sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi dan sentimen global.

Perbedaan arah pergerakan antara emas dan Bitcoin ini menjadi sorotan, terutama bagi investor yang selama ini membandingkan kedua aset tersebut sebagai alternatif lindung nilai.

Dampak ke Aset Berbasis Emas Digital

Penguatan harga emas tidak hanya berdampak pada pasar komoditas tradisional, tetapi juga merembet ke aset digital berbasis emas. Token emas milik Tether, yaitu Tether Gold (XAUT), turut mengalami kenaikan nilai dan diperdagangkan di kisaran US$5.085 per token.

XAUT merupakan aset kripto yang didukung oleh emas fisik, di mana setiap token merepresentasikan kepemilikan emas tertentu. Ketika harga emas dunia naik, nilai tokenisasi emas ini pun ikut terdongkrak, menjadikannya alternatif menarik bagi investor kripto yang ingin tetap terpapar aset lindung nilai.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun pasar kripto secara umum mengalami tekanan, segmen aset digital berbasis komoditas masih mampu menunjukkan kinerja positif dalam kondisi tertentu.

Harga Emas Domestik Ikut Menguat

Di dalam negeri, kenaikan harga emas global juga tercermin pada harga logam mulia produksi PT Aneka Tambang (Antam). Harga emas Antam dilaporkan naik menjadi Rp2.917.000 per gram, mengikuti tren penguatan di pasar internasional.

Kenaikan ini menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat Indonesia, mengingat emas fisik masih menjadi instrumen investasi favorit untuk jangka panjang. Dalam situasi pasar yang bergejolak, emas sering kali dipilih sebagai alat penyimpan nilai yang relatif stabil.

Dengan harga yang terus mencetak rekor, sebagian investor memilih untuk mempertahankan kepemilikan emas, sementara sebagian lainnya mulai mempertimbangkan strategi ambil untung.

Faktor Makroekonomi Jadi Pemicu Utama

Lonjakan harga emas dan pelemahan Bitcoin tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu pemicu utama adalah meningkatnya ketidakpastian makroekonomi global. Kondisi ekonomi dunia saat ini masih dibayangi oleh perlambatan pertumbuhan, inflasi yang belum sepenuhnya terkendali, serta arah kebijakan moneter bank sentral utama.

Ekspektasi pasar terhadap potensi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) turut menjadi faktor pendorong penguatan emas. Secara historis, emas cenderung menguat ketika suku bunga rendah atau diperkirakan akan turun, karena biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih kecil.

Di sisi lain, Bitcoin yang sering bergerak sejalan dengan aset berisiko seperti saham teknologi, justru mengalami tekanan ketika sentimen pasar berubah menjadi lebih defensif.

Ketegangan Geopolitik Perburuk Sentimen

Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik juga memainkan peran penting dalam pergerakan pasar. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu kekhawatiran global setelah mengancam Kanada dengan tarif hingga 100% apabila negara tersebut menjalin aliansi ekonomi yang lebih dekat dengan China.

Ancaman tarif ini meningkatkan risiko perang dagang baru, yang berpotensi mengganggu stabilitas perdagangan global. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan obligasi pemerintah.

Bitcoin dan aset kripto lainnya, meskipun memiliki narasi sebagai lindung nilai, dalam praktiknya masih sering diperlakukan sebagai aset berisiko dalam jangka pendek.

Risiko Shutdown Pemerintah AS

Faktor lain yang turut memperkeruh suasana pasar adalah potensi terjadinya shutdown pemerintah Amerika Serikat. Secara historis, shutdown pemerintah AS sering kali berdampak pada tertundanya rilis data ekonomi penting dan menurunnya partisipasi investor institusional di pasar keuangan.

Ketidakpastian akibat minimnya data ekonomi membuat pelaku pasar kesulitan dalam mengambil keputusan investasi yang terukur. Kondisi ini biasanya mendorong investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan memilih instrumen yang lebih stabil.

Dalam konteks ini, emas kembali diuntungkan, sementara Bitcoin dan aset kripto lainnya menghadapi tekanan tambahan.

Implikasi bagi Investor Kripto Indonesia

Bagi investor kripto di Indonesia, perbedaan kinerja antara Bitcoin dan emas ini menjadi pengingat penting tentang diversifikasi portofolio. Ketergantungan pada satu jenis aset dapat meningkatkan risiko, terutama di tengah kondisi global yang tidak menentu.

Kenaikan emas, baik dalam bentuk fisik maupun tokenisasi seperti XAUT, menunjukkan bahwa aset lindung nilai masih memiliki peran penting. Sementara itu, Bitcoin tetap menjadi instrumen dengan volatilitas tinggi yang membutuhkan strategi dan manajemen risiko yang matang.

Investor disarankan untuk memahami karakteristik masing-masing aset dan tidak terjebak pada narasi tunggal. Pergerakan jangka pendek tidak selalu mencerminkan potensi jangka panjang, baik untuk Bitcoin maupun emas.

Kesimpulan

Kontrasnya pergerakan antara Bitcoin dan emas menegaskan bahwa sentimen pasar saat ini condong ke arah kehati-hatian. Emas berhasil mencetak rekor baru di atas US$5.000 per ons, didorong oleh ketidakpastian makroekonomi, ketegangan geopolitik, ekspektasi kebijakan The Fed, serta risiko shutdown pemerintah AS.

Sementara itu, Bitcoin masih berada dalam fase tekanan dan diperdagangkan di area US$87 ribu. Kondisi ini mencerminkan sikap investor yang lebih selektif dalam menghadapi risiko.

Bagi pelaku pasar kripto Indonesia, situasi ini dapat dijadikan bahan evaluasi untuk meninjau kembali strategi investasi, dengan tetap mengedepankan riset dan pengelolaan risiko.

Disclaimer: Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Inspiratif: Wanita Asal Brasil Menabung Bitcoin Demi Mewujudkan Impian Keliling Dunia

Kisah Inspiratif: Wanita Asal Brasil Menabung Bitcoin Demi Mewujudkan Impian Keliling Dunia Bitcoin tidak lagi sekadar dikenal sebagai aset spekulatif atau instrumen investasi jangka pendek. Bagi sebagian orang, aset kripto terbesar di dunia ini justru dimanfaatkan sebagai alat menabung alternatif untuk mencapai tujuan hidup tertentu. Salah satu kisah menarik datang dari seorang wanita asal Brasil bernama Ana , yang memilih menyimpan tabungannya dalam bentuk Bitcoin (BTC) demi mewujudkan impiannya berkeliling dunia. Ana yang berprofesi sebagai desainer grafis mengungkapkan bahwa keputusannya menabung menggunakan Bitcoin bukan semata mengikuti tren. Baginya, Bitcoin justru menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan gaya hidup modern, terutama bagi seseorang yang memiliki rencana perjalanan lintas negara. Bitcoin sebagai Sarana Menabung Perjalanan Dalam keterangannya yang dikutip dari laman Azteco , Ana menjelaskan bahwa ia secara rutin menyisihkan pen...

Bitcoin Berpotensi Likuidasi Rp66 Triliun Posisi Short Jika Tembus US$93.000

Bitcoin Berpotensi Likuidasi Rp66 Triliun Posisi Short Jika Tembus US$93.000 Pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan utama pelaku pasar kripto global. Setelah mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa waktu terakhir, perhatian investor kini tertuju pada satu level krusial, yaitu US$93.000 . Menurut data dari Bitcoin Exchange Liquidation Map , apabila Bitcoin kembali menyentuh harga tersebut, pasar berpotensi menyaksikan likuidasi besar-besaran posisi short dengan nilai mencapai US$4 miliar atau setara Rp66 triliun . Level harga ini dinilai sangat sensitif karena menjadi titik kumpul leverage tinggi, khususnya dari trader yang mengambil posisi short dan bertaruh bahwa harga Bitcoin akan terus melemah. Ketika harga justru bergerak naik dan menembus area kritis, risiko likuidasi meningkat secara signifikan. Apa Itu Likuidasi dan Mengapa Penting? Dalam perdagangan derivatif kripto, likuidasi terjadi ketika posisi trader ditutup secara otomatis oleh sistem exchan...

Inovasi Unik di Brasil: Pergerakan Harga Bitcoin Diubah Menjadi Musik Orkestra

Inovasi Unik di Brasil: Pergerakan Harga Bitcoin Diubah Menjadi Musik Orkestra Bitcoin dikenal sebagai aset digital dengan pergerakan harga yang dinamis dan sering kali sulit diprediksi. Namun di Brasil, volatilitas Bitcoin justru menjadi sumber inspirasi bagi sebuah proyek seni yang tidak biasa. Melalui pendekatan kreatif, data harga Bitcoin (BTC) akan diterjemahkan menjadi musik orkestra , menggabungkan dunia teknologi finansial dengan seni pertunjukan. Proyek ini bertujuan untuk menghadirkan cara baru dalam memahami pasar kripto. Alih-alih melihat grafik dan angka di layar, audiens diajak merasakan fluktuasi harga Bitcoin melalui komposisi musik yang dimainkan secara langsung oleh sebuah orkestra. Mengubah Data Pasar Menjadi Karya Seni Inisiatif ini merupakan proyek seni eksperimental yang memanfaatkan data harga Bitcoin secara real-time sebagai dasar penciptaan musik. Setiap perubahan harga, baik kenaikan maupun penurunan, akan memengaruhi elemen musikal seperti melod...