Bitcoin Melemah, Harga Emas Justru Bangkit dan Tembus Level US$5.000
Pasar keuangan global kembali menunjukkan dinamika yang kontras antara aset kripto dan aset lindung nilai tradisional. Di saat harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan dan bergerak melemah, emas justru mencatatkan penguatan signifikan hingga mencetak rekor harga baru. Kondisi ini menegaskan kembali peran emas sebagai aset safe haven ketika ketidakpastian global meningkat.
Pada perdagangan Senin (26/01), harga emas dunia (XAU) tercatat menyentuh level psikologis US$5.091, menandai titik tertinggi sepanjang sejarah. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan penurunan harga Bitcoin yang kini berada di kisaran US$87.000, setelah sebelumnya gagal mempertahankan momentum kenaikannya.
Emas Cetak Rekor, Bitcoin Kehilangan Daya Dorong
Kenaikan harga emas mencerminkan pergeseran sentimen investor yang cenderung menghindari risiko. Dalam situasi global yang tidak menentu, emas kembali menjadi pilihan utama untuk menjaga nilai aset. Sebaliknya, Bitcoin yang kerap disebut sebagai “emas digital” justru menunjukkan performa yang berlawanan dalam jangka pendek.
Penurunan Bitcoin ke area US$87 ribu menandakan adanya aksi ambil untung dan sikap kehati-hatian pasar. Meski secara fundamental Bitcoin masih dianggap memiliki prospek jangka panjang, pergerakan jangka pendeknya tetap sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi dan sentimen global.
Perbedaan arah pergerakan antara emas dan Bitcoin ini menjadi sorotan, terutama bagi investor yang selama ini membandingkan kedua aset tersebut sebagai alternatif lindung nilai.
Dampak ke Aset Berbasis Emas Digital
Penguatan harga emas tidak hanya berdampak pada pasar komoditas tradisional, tetapi juga merembet ke aset digital berbasis emas. Token emas milik Tether, yaitu Tether Gold (XAUT), turut mengalami kenaikan nilai dan diperdagangkan di kisaran US$5.085 per token.
XAUT merupakan aset kripto yang didukung oleh emas fisik, di mana setiap token merepresentasikan kepemilikan emas tertentu. Ketika harga emas dunia naik, nilai tokenisasi emas ini pun ikut terdongkrak, menjadikannya alternatif menarik bagi investor kripto yang ingin tetap terpapar aset lindung nilai.
Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun pasar kripto secara umum mengalami tekanan, segmen aset digital berbasis komoditas masih mampu menunjukkan kinerja positif dalam kondisi tertentu.
Harga Emas Domestik Ikut Menguat
Di dalam negeri, kenaikan harga emas global juga tercermin pada harga logam mulia produksi PT Aneka Tambang (Antam). Harga emas Antam dilaporkan naik menjadi Rp2.917.000 per gram, mengikuti tren penguatan di pasar internasional.
Kenaikan ini menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat Indonesia, mengingat emas fisik masih menjadi instrumen investasi favorit untuk jangka panjang. Dalam situasi pasar yang bergejolak, emas sering kali dipilih sebagai alat penyimpan nilai yang relatif stabil.
Dengan harga yang terus mencetak rekor, sebagian investor memilih untuk mempertahankan kepemilikan emas, sementara sebagian lainnya mulai mempertimbangkan strategi ambil untung.
Faktor Makroekonomi Jadi Pemicu Utama
Lonjakan harga emas dan pelemahan Bitcoin tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu pemicu utama adalah meningkatnya ketidakpastian makroekonomi global. Kondisi ekonomi dunia saat ini masih dibayangi oleh perlambatan pertumbuhan, inflasi yang belum sepenuhnya terkendali, serta arah kebijakan moneter bank sentral utama.
Ekspektasi pasar terhadap potensi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) turut menjadi faktor pendorong penguatan emas. Secara historis, emas cenderung menguat ketika suku bunga rendah atau diperkirakan akan turun, karena biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih kecil.
Di sisi lain, Bitcoin yang sering bergerak sejalan dengan aset berisiko seperti saham teknologi, justru mengalami tekanan ketika sentimen pasar berubah menjadi lebih defensif.
Ketegangan Geopolitik Perburuk Sentimen
Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik juga memainkan peran penting dalam pergerakan pasar. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu kekhawatiran global setelah mengancam Kanada dengan tarif hingga 100% apabila negara tersebut menjalin aliansi ekonomi yang lebih dekat dengan China.
Ancaman tarif ini meningkatkan risiko perang dagang baru, yang berpotensi mengganggu stabilitas perdagangan global. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan obligasi pemerintah.
Bitcoin dan aset kripto lainnya, meskipun memiliki narasi sebagai lindung nilai, dalam praktiknya masih sering diperlakukan sebagai aset berisiko dalam jangka pendek.
Risiko Shutdown Pemerintah AS
Faktor lain yang turut memperkeruh suasana pasar adalah potensi terjadinya shutdown pemerintah Amerika Serikat. Secara historis, shutdown pemerintah AS sering kali berdampak pada tertundanya rilis data ekonomi penting dan menurunnya partisipasi investor institusional di pasar keuangan.
Ketidakpastian akibat minimnya data ekonomi membuat pelaku pasar kesulitan dalam mengambil keputusan investasi yang terukur. Kondisi ini biasanya mendorong investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan memilih instrumen yang lebih stabil.
Dalam konteks ini, emas kembali diuntungkan, sementara Bitcoin dan aset kripto lainnya menghadapi tekanan tambahan.
Implikasi bagi Investor Kripto Indonesia
Bagi investor kripto di Indonesia, perbedaan kinerja antara Bitcoin dan emas ini menjadi pengingat penting tentang diversifikasi portofolio. Ketergantungan pada satu jenis aset dapat meningkatkan risiko, terutama di tengah kondisi global yang tidak menentu.
Kenaikan emas, baik dalam bentuk fisik maupun tokenisasi seperti XAUT, menunjukkan bahwa aset lindung nilai masih memiliki peran penting. Sementara itu, Bitcoin tetap menjadi instrumen dengan volatilitas tinggi yang membutuhkan strategi dan manajemen risiko yang matang.
Investor disarankan untuk memahami karakteristik masing-masing aset dan tidak terjebak pada narasi tunggal. Pergerakan jangka pendek tidak selalu mencerminkan potensi jangka panjang, baik untuk Bitcoin maupun emas.
Kesimpulan
Kontrasnya pergerakan antara Bitcoin dan emas menegaskan bahwa sentimen pasar saat ini condong ke arah kehati-hatian. Emas berhasil mencetak rekor baru di atas US$5.000 per ons, didorong oleh ketidakpastian makroekonomi, ketegangan geopolitik, ekspektasi kebijakan The Fed, serta risiko shutdown pemerintah AS.
Sementara itu, Bitcoin masih berada dalam fase tekanan dan diperdagangkan di area US$87 ribu. Kondisi ini mencerminkan sikap investor yang lebih selektif dalam menghadapi risiko.
Bagi pelaku pasar kripto Indonesia, situasi ini dapat dijadikan bahan evaluasi untuk meninjau kembali strategi investasi, dengan tetap mengedepankan riset dan pengelolaan risiko.
Disclaimer: Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR).
Komentar
Posting Komentar